Minggu, 23 November 2014

Efektifkah kata-kata "Aku mengerti perasaanmu"?

Kata-kata "Aku mengerti perasaanmu" atau hal-hal yang senada dengan itu seringkali kita dengar terutama saat masalah datang. Kadang kta mendengar itu dai orang lain, kadang kita yang mengucapkan itu untuk orang lain.
Ada yang salah? Bisa ya bisa tidak. Kehidupan setiap orang itu berbeda lika-likunya. Setiap individu memiliki kemampuan dan kelemahan masing-masing sehingga ujian yang didapatnya pun pasti berbeda. Terkadang kita merasa bisa mengerti perasaan orang lain, tapi saya pikir kita tidak akan bisa sepenuhnya bisa merasakan dengan tepat seperti apa perasaannya. Setinggi apapun seseorang bisa berempati, menurut saya tetap akan ada perbedaan antara yang kita rasakan dengan yang orang lain rasakan.
Terkadang mudah saja kita bicara "Aku mengerti perasaanmu", tetapi pada praktiknya itu sesuatu yang sulit. Untuk bisa berempati pada orang lain saja belum tentu bisa dilakukan semua orang, apalagi bisa merasakan persis apa yang dirasakan orang itu.
Bahkan, saya pribadi agak kurang suka dengan kata-kata "Aku mengerti perasaanmu". Jika saya sedang dalam masalah kemudian ada orang lain mengatakan demikian, mungkin dari luar saya bisa terlihat tersenyum, tapi dalam hati saya menolak, tidak mungkin orang itu mengerti dengan tepat seperti apa perasaan yang sedang saya rasakan. Begitu pula sebaliknya, ketika ada teman dalam masalah, saya tidak pernah mengatakan "Aku mengerti perasaanmu" itu, ya alasannya seperti di atas, saya tidak akan bisa dengan tepat merasakan apa yang dia rasakan.
Misalkan jika seseorang sakit hati terhadap sesuatu, kemampuan menerima kenyataan buruk tiap individu itu berbeda, bisa jadi orang yang sedang dalam masalah itu memiliki 'coping stress' yang lebih handal dibanding saya, sehingga sakt hati yang dia rasakan sebenarnya tdak seberat yang saya kira. Begitu juga sebaliknya, jika 'coping stress' saya lebih baik dibanding dia, tentu saya tidak akan merasakan sakit hati yang sama dengan dia meskipun saya membayangkan saya yang ada di posisinya.
Dan satu lagi, kemampuan empati setiap orang berbeda. Kadang kita mengatakan kalimat sakti itu hanya untuk menghibur orang yang sedang dalam masalah tersebut tanpa benar-benar bisa berempati. Menurut saya langkah yang tepat hanyalah menjadi pendengar yang baik dan berusaha membantu mencarikan jalan keluar untuk orang tersebut, tak perlulah basa-basi mengatakan "Aku mengerti perasaanmu".
Yaa, tapi setiap orang berbeda. Mungkin ini hanya pandangan saya pribadi. Feel free to coment agar bisa saling membuka pikiran dan membuka wawasan, mungkin ada orang lain yang merasa masalahnya menjadi lebih ringan jika ia mendengar kata-kata sakti tersebut. Who knows...

Back to the blog... Yey

Haha... Lupa akun blognya jadi ga dibuka-buka deh :D

Banyak yang udah terjadi tapi ga sempet ketulis di blog... Hmm, jujur, sebenernya bukan hanya karena lupa akunnya, tapi juga semangat nulis itu sempet pudar dan baru kembali baru-baru ini. Alhamdulillah masih bisa balik tu semangat hehe..

Selama ga nulis, banyaaaaak banget kejadian-kejadian yang terjadi, dari hal yang membahagiakan sampai yang paling ga banget sepanjang hidup. Ya, ada kejadian yang sangat sangat merubah hidup saya dan jalan hidup saya kedepannya. Kejadian yang sebenarnya sangat ga diharapkan kedatangannya. Tapi, berhubung sudah terjadi, ya tinggal gimana menghadapinya. Nah, masalahnya sampai sekarang saya masih harus berusaha untuk mencari cara menyikapinya. Sampai saat ini sebenarnya saya masih jatuh akibat kejadian itu, dan belum tau gimana dan kapan bangkit normal kembali. Semoga dengan menulis bisa membantu untuk bangkit. Yosh!!! Ganbate!!!