Osteoporosis, merupakan kondisi dimana massa tulang berkurang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah atau retak. Jika digambarkan, tulang dengan osteoporosis akan tampak seperti spons.
Sel-sel tulang mengalami pergantian, ada sel yang rusak dan mati lalu digantikan dengan sel tulang yang baru. Proses perusakan sel tulang disebut osteoklast, dan proses pembentukan sel disebut osteoblast.
Pada usia muda atau anak-anak, osteoblast lebih besar daripada osteoklast. Hal ini menyebabkan tubuh kita terus tumbuh. Usia dewasa, osteoblast dan osteoklast seimbang. Pada usia lanjut, osteoklast lebih besar daripada osteoblast, sehingga massa tulang semakin berkurang.
Proses osteoporosis memerlukan waktu yang tidak
singkat (kecuali pada kondisi-kondisi patologi tertentu), sehingga mayoritas
penderita tidak menyadari bahwa tulangnya sudah rapuh. Dan hal ini sering
disebut-sebut dengan ‘silent killer’.
Banyak cara untuk mencegah osteoporosis, salah satunya
dengan senam pencegahan osteoporosis.
Senam Osteoporosis dan Senam Pencegahan Osteoporosis adalah
dua hal yang berbeda, bahkan prinsip utamanya saling berseberangan. Senam
pencegahan osteoporosis berprinsip ‘pembebanan’ sedangkan senam osteoporosis
justru menghindari ‘pembebanan’. Kenapa? Untuk tulang yang masih sehat pembebanan ini sangat dianjurkan karena pembebanan mampu menjaga massa tulang.
Sedangkan untuk tulang yang sudah keropos, pembebanan sangat tidak dianjurkan,
karena tulang yang telah keropos menjadi rapuh dan mudah
terjadi fraktur (patah tulang) jika mendapat beban yang berlebih atau
terbentur. Sehingga pembebanan pada orang yang telah mengalami osteoporosis
bukan membantu tapi justru berbahaya.
Dalam senam pencegahan osteoporosis juga terdapat gerakan-gerakan
high impact, sedangkan dalam senam osteoporosis high impact sangat dihindari, semua menggunakan gerakan low impact.
Senam osteoporosis dan senam pencegahan osteoporosis kini sudah mulai banyak ditemui, baik di rumah sakit maupun di lingkungan tempat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar